Apa sih yang dimaksud jurnal penyesuaian? You know, jurnal :
pencatatan | penyesuaian : menyesuaikan. Nah, apa yang disesuaikan? Ya akun-akun
pada buku besar yang belum menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
Daftar neraca saldo pada akhir periode akuntansi belum
menunjukkan kejadian/keadaan yang sebenarnya karena masih ada kewajiban yang
seharusnya kita bayar tapi belum kita lakukan dan ada hak yang harusnya kita terima, tapi belum kita
terima, maupun sebaliknya (akun-akun yang ada embel-embel kata “diterima di
muka” & ”dibayar di muka”). Oleh karena itu, pada akhir periode kita
membuat ayat jurnal penyesuaian agar saldo akun-akun kita menunjukkan keadaan
yang sebenarnya.
Berikut ini transaksi-transaksi yang ada pada jurnal
penyesuaian :
1.
Pendapatan diterima dimuka
: kita menerima pendapatan (hak kita), sedangkan kewajiban belum kita serahkan.
misal : saya punya kost, 1 bulan Rp 200.000,- Anak kost saya membayar biaya untuk 1 thn (1 Juni’12- 31 Mei’13) Rp 2.400.000,-
Saat 1 Juni saya mencatat :
Kas Rp 2.400.000,-
- Pendapatan diterima di muka Rp2.400.000,-
Pada akhir periode (31 Desember’12) saya mencatat :
Pendapatan diterima di muka Rp 1.400.000
- Pendapatan sewa Rp 1.400.000
Why??? Because : Rp 1.400.000 merupakan pendapatan kita selama 7 bln (1 juni’12 – 31 Des’12), nah yang 5 bln akhir Rp 1000.000 masih menjadi pendapatan yg harusnya blm kita terima (1 Jan’13 – 31 Mei’13)
: kita menerima pendapatan (hak kita), sedangkan kewajiban belum kita serahkan.
misal : saya punya kost, 1 bulan Rp 200.000,- Anak kost saya membayar biaya untuk 1 thn (1 Juni’12- 31 Mei’13) Rp 2.400.000,-
Saat 1 Juni saya mencatat :
Kas Rp 2.400.000,-
- Pendapatan diterima di muka Rp2.400.000,-
Pada akhir periode (31 Desember’12) saya mencatat :
Pendapatan diterima di muka Rp 1.400.000
- Pendapatan sewa Rp 1.400.000
Why??? Because : Rp 1.400.000 merupakan pendapatan kita selama 7 bln (1 juni’12 – 31 Des’12), nah yang 5 bln akhir Rp 1000.000 masih menjadi pendapatan yg harusnya blm kita terima (1 Jan’13 – 31 Mei’13)
2.
Piutang Pendapatan
: pendapatan yang seharusnya sudah kita terima/catat pada periode yg bersangkutan, tapi belum kita dapatkan. (berbeda dengan pendapatan diterima di muka, tadi kan kita terima duit duluan )
misal : Pada tgl 1 Agustus’12, saya nabung di Bank X Rp 1.200.000,- dgn suku bunga 12% per-tahun yang di terima tiap 6 bulan sekali (1 Februari dan 1 Agustus).
Penjelasan : karena saya menabung pada tgl 1 Agust’12, maka saya baru akan menerima pendapatan bunga pd tgl 1 Feb’13. Sehingga sampai akhir periode terjadi penundaan pendapatan bunga selama 1 bln (31 Des’12 s/d 1 Feb’13)
Pencatatan pd akhir periode :
1/12 x 12% x Rp 1.200.000 = Rp 12.000 à merupakan bunga untuk bln Januari.
Jurnal 31 Des’12 =
Piutang Bunga (pendapatan) Rp 12.000
- Pendapatan bunga Rp 12.000
Nah, nanti pas tgl 1 Feb’13 jurnalnya pasti :
Kas Rp 72.000.000 ==>> (6/12 x 12% x Rp 1.200.000)
- Piutang Bunga Rp 12.000
- Pendapatan Bunga Rp 60.000
(Coba deh, buat akun buku besarnya untuk mempermudah pemahaman ^.^)
: pendapatan yang seharusnya sudah kita terima/catat pada periode yg bersangkutan, tapi belum kita dapatkan. (berbeda dengan pendapatan diterima di muka, tadi kan kita terima duit duluan )
misal : Pada tgl 1 Agustus’12, saya nabung di Bank X Rp 1.200.000,- dgn suku bunga 12% per-tahun yang di terima tiap 6 bulan sekali (1 Februari dan 1 Agustus).
Penjelasan : karena saya menabung pada tgl 1 Agust’12, maka saya baru akan menerima pendapatan bunga pd tgl 1 Feb’13. Sehingga sampai akhir periode terjadi penundaan pendapatan bunga selama 1 bln (31 Des’12 s/d 1 Feb’13)
Pencatatan pd akhir periode :
1/12 x 12% x Rp 1.200.000 = Rp 12.000 à merupakan bunga untuk bln Januari.
Jurnal 31 Des’12 =
Piutang Bunga (pendapatan) Rp 12.000
- Pendapatan bunga Rp 12.000
Nah, nanti pas tgl 1 Feb’13 jurnalnya pasti :
Kas Rp 72.000.000 ==>> (6/12 x 12% x Rp 1.200.000)
- Piutang Bunga Rp 12.000
- Pendapatan Bunga Rp 60.000
(Coba deh, buat akun buku besarnya untuk mempermudah pemahaman ^.^)
3.
Beban dibayar dimuka
: Biaya / Beban-beban yg sudah kita bayar pada awal periode untuk beberapa periode yg sudah disepakati.
misal : pada tgl 1 Mei’12 saya (anak kost) membayarkan sewa kamar kost sebesar Rp 1.200.000 untuk 1 tahun kedepan.
Jurnal 1 Mei’12 :
Sewa di bayar di muka Rp 1.200.000
- Kas Rp 1.200.000
Pada 31 Des’12 jurnalnya : 8/12 x 1.200.000 = 800.000 (yg benar” mjd beban)
Beban Sewa Rp 800.000
- Sewa dibyr dimuka Rp 800.000
(Sekali lagi, coba deh buat akun buku besarnya. Untuk mempermudah penjelasan ^.^)
: Biaya / Beban-beban yg sudah kita bayar pada awal periode untuk beberapa periode yg sudah disepakati.
misal : pada tgl 1 Mei’12 saya (anak kost) membayarkan sewa kamar kost sebesar Rp 1.200.000 untuk 1 tahun kedepan.
Jurnal 1 Mei’12 :
Sewa di bayar di muka Rp 1.200.000
- Kas Rp 1.200.000
Pada 31 Des’12 jurnalnya : 8/12 x 1.200.000 = 800.000 (yg benar” mjd beban)
Beban Sewa Rp 800.000
- Sewa dibyr dimuka Rp 800.000
(Sekali lagi, coba deh buat akun buku besarnya. Untuk mempermudah penjelasan ^.^)
4.
Utang Beban
: (kebalikan dari akun Beban dibyr dimuka) Beban-beban yg sudah kita akui tapi belum di catat
misal : Saya punya pegawai yang mulai bekerja 1 Agustus’12. Sedangkan gaji pegawai, saya bayarkan satu kali pada bulan Maret. Gaji sebesar Rp 1.000.000/bln.
pada akhir periode (31 Des’12) :
Beban Gaji Rp 5.000.000
- Utang Gaji Rp 5.000.000
: (kebalikan dari akun Beban dibyr dimuka) Beban-beban yg sudah kita akui tapi belum di catat
misal : Saya punya pegawai yang mulai bekerja 1 Agustus’12. Sedangkan gaji pegawai, saya bayarkan satu kali pada bulan Maret. Gaji sebesar Rp 1.000.000/bln.
pada akhir periode (31 Des’12) :
Beban Gaji Rp 5.000.000
- Utang Gaji Rp 5.000.000
5.
Kerugian Piutang
: Kerugian ini karena adanya piutang tak tertagih, entah karena debitur bangkrut atau lari dari tanggung jawab.. :O well, itu urusan debitur dan keluarganya. ;p
misal : saya punya debitur yang bandel sekali bayar utangnya, akhirnya saya relakan uang Rp 200.000 (utang si debitur ini) Pada akhir periode, 31 Des’12 jurnal penyesuaiannya :
Cadangan kerugian piutang Rp 200.000
- Piutang usaha Rp 200.000
kenapa saya pakai akun “cadangan”? karena sy menggunakan metode penghapusan piutang secara “Tidak Langsung” (saya meng’estimasi’ / memperhitungkan terlebih dahulu, kira” berapa % debitur tidak mampu membayar hutangnya). Kalau saya pakai metode langsung, saya akan pakai akun “Beban Piutang Tak Tertagih”, metode ini tidak perlu mengestimasi, karena sudah real, benar-benar nyata kalau debitur tidak mampu membayar hutangnya. Metode langsung kurang efektif jika digunakan pada nilai piutang yang sangat materiil (banyak) –bisa” bangkrut kitee.. -,-
: Kerugian ini karena adanya piutang tak tertagih, entah karena debitur bangkrut atau lari dari tanggung jawab.. :O well, itu urusan debitur dan keluarganya. ;p
misal : saya punya debitur yang bandel sekali bayar utangnya, akhirnya saya relakan uang Rp 200.000 (utang si debitur ini) Pada akhir periode, 31 Des’12 jurnal penyesuaiannya :
Cadangan kerugian piutang Rp 200.000
- Piutang usaha Rp 200.000
kenapa saya pakai akun “cadangan”? karena sy menggunakan metode penghapusan piutang secara “Tidak Langsung” (saya meng’estimasi’ / memperhitungkan terlebih dahulu, kira” berapa % debitur tidak mampu membayar hutangnya). Kalau saya pakai metode langsung, saya akan pakai akun “Beban Piutang Tak Tertagih”, metode ini tidak perlu mengestimasi, karena sudah real, benar-benar nyata kalau debitur tidak mampu membayar hutangnya. Metode langsung kurang efektif jika digunakan pada nilai piutang yang sangat materiil (banyak) –bisa” bangkrut kitee.. -,-
6.
Penyusutan
: semua aktifa tetap (kecuali tanah) pasti mengalami penyusutan nilai guna bersamaan dengan berlalunya waktu selama kita menggunakan aktifa tetap tersebut, misal : gedung, peralatan kantor, mesin, dll.
contohnya : Pada daftar saldo, mesin menunjukkan nilai Rp 30.000.000. Manajemen perusahaan menetapkan 15% penyusutan per tahun. Berarti mesin tersebut mengalami penurunan nilai 15% tiap tahunnya (15% x Rp 30.000.000 = 4.500.000)
Jadi jurnal pada akhir periode :
Beban penyusutan mesin Rp 4.500.000
- akumulasi penyusutan mesin Rp 4.500.000
: semua aktifa tetap (kecuali tanah) pasti mengalami penyusutan nilai guna bersamaan dengan berlalunya waktu selama kita menggunakan aktifa tetap tersebut, misal : gedung, peralatan kantor, mesin, dll.
contohnya : Pada daftar saldo, mesin menunjukkan nilai Rp 30.000.000. Manajemen perusahaan menetapkan 15% penyusutan per tahun. Berarti mesin tersebut mengalami penurunan nilai 15% tiap tahunnya (15% x Rp 30.000.000 = 4.500.000)
Jadi jurnal pada akhir periode :
Beban penyusutan mesin Rp 4.500.000
- akumulasi penyusutan mesin Rp 4.500.000
7.
Beban Pemakaian Perlengkapan
: nilai beban dari sebagian harga beli perlengkapan yang telah digunakan selama periode akuntansi.
misal : Jumlah Perlengkapan kantor di daftar saldo menunjukkan Rp 1000.000,- Tapi saat di hitung secara fisik, nilai dari perlengkapan itu sebesar Rp 750.000,- Berarti perlengkapan yang sudah terpakai oleh kantor selama periode akuntansi ini sebesar Rp 250.000,- (Rp 1.000.000 – Rp 750.000)
Jurnal Penyesuaian pada tanggal 31 Des’12 adalah :
Beban pemakaian perlenkapan kantor Rp 250.000
- Perlengkapan Kantor Rp 250.000
: nilai beban dari sebagian harga beli perlengkapan yang telah digunakan selama periode akuntansi.
misal : Jumlah Perlengkapan kantor di daftar saldo menunjukkan Rp 1000.000,- Tapi saat di hitung secara fisik, nilai dari perlengkapan itu sebesar Rp 750.000,- Berarti perlengkapan yang sudah terpakai oleh kantor selama periode akuntansi ini sebesar Rp 250.000,- (Rp 1.000.000 – Rp 750.000)
Jurnal Penyesuaian pada tanggal 31 Des’12 adalah :
Beban pemakaian perlenkapan kantor Rp 250.000
- Perlengkapan Kantor Rp 250.000
Well Guys,, all of these are
transactions which need an adjusting journal to keep one of basic concept in
Accounting, that is Conservatism and Objective Evidence
--Semoga Bermanfaat-- ^.^
--Semoga Bermanfaat-- ^.^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar