Minggu, 30 Juni 2013

See ya My 'Wow' June :)


- Just a Story :)

Bulan Juni ku telah berakhir. Sebulan ini aku menulis ceritaku secara umum di blog ini. Bukannya bulan ini paling spesial, bukan.. semua hari, semua bulan, semua tahun itu spesial. Tak ada beda. Hanya saja, banyak hal yang perlu ku ingat-ingat. Karena kau tau, aku ini anak yang cuek bebek. Kejadian kemarin saja bisa langsung terlupakan. Oleh karena itu, agar memory-memory kejadian ini tidak begitu saja lenyap terhidden di sudut otakku, aku ingin mempatenkan memory ini di otakku atau bahkan di titik hatiku. Nilai plusnya, blogku semakin penuh. Hehe..

Di bulan Juni ini, ada banyak kejutan yang membuat hatiku naik turun. Mulai dari kejadian UKK yang menguras IQ dan EQ. Rentetan kejadian di Balai Pelatihan ; pertemuan dengan keluarga baru selama 1 minggu, kakek penjual balon, penambahan materi EQ dan IQ, dan banyak lagi (lupa.. nahloh?)

Pada Bulan Juni tahun ini pula, aku berumur 17 tahun. Sebagian orang menganggap bahwa umur 17 is something special. Tapi sampai sekarang, aku belum tau kenapa 17 tahun dianggap begitu special? Di precious-kan. dan tak jarang peringatan ulang tahun paling meriah adalah pada ulang tahun ke-17. Dan aku akui, aku pun terkadang terseret pada kebiasaan seperti ini.

Tepat pukul 00.01 (Fri, 21/06) di Ma’had tercinta. Aku tenang di pusaran mimpi-mimpiku.. Tiba-tiba seseorang mengusik tidurku. Aku masih bertahan di pusaran mimpi, enggan membuka mata. Namun kemudian disusul dengan hawa dingin yang mampu menusuk tulang, menembus selimutku. Terpaksa aku berpindah ke dimensi yang sebenarnya meninggalkan pusaran mimpi. Kudapati pintu kamar terbuka. Setengah sadar, beberapa orang berdiri di depan pintu. Gelap, hitam. Tak jelas siapa mereka. Kaget atau barangkali takut, aku langsung terduduk. 2 lilin menyembul keluar dari belakang mereka. Kue tart! Terlihat jelas, Dea yang membawanya.. Dan dari cahaya lilin itu, aku tau siapa mereka, Rada teman sekamarku, Vivi, Ikha, Mia, Putri, Rania,... teman 1 ma’had. Speechless. Tanpa sadar, mulutku menganga lebar. Seseorang dari mereka menyalakan lampu, menyanyi Happy Birthday untukku. Ah, terharuu...

Mereka perhatian sekali.. dan ternyata seseorang yang pertama kali mengusik tidurku, mbak Nasha membawa setumpuk kado dan menjatuhkan dirinya tepat di sebelahku. Mangap lagi. Benar benar speechless.

Kue tart mendekat.. coklat.. mereka tau apa kesukaanku.. aku berdoa.. yang terbaik untuk kita.. 2 lilin itu pun padam. Pemotongan kue, dan sejurus kemudian.. krim krim coklat mendarat di pipi dan lengan tanganku. Oh aku sayang kalian.. Pembalasan!

Akhirnya, dengan sadar diri, dan sadar kalau ini tengah malam, kami segera menghentikan pertempuran dan berakhir di kamar mandi..

Keesokan harinya, penerimaan raport. Deg-deg-an bukan main. Tahun ini aku banyak membuat ulah. Takut kalau-kalau terjadi penurunan pada raport kenaikanku. Finally... jeng..jeng... tak ada penurunan. Peningkatan adanya.. kok bisa?? Masyaallah.. Alhamdulilllaah... leganya..
 Menjelang siang, sepupuku datang ke ma’had. Hadiah ulang tahun kedua, dia menginap (pondok kilat) selama 1 minggu di sini. Aku dapat teman sepermainan, sepergilaan, dan sepergejean. Yeah!

Seminggu di ma’had, saudaraku pulang. Aku juga berencana pulang. Tapi, ada batu besar menghadang. Tugas dan amanah yang harus aku kerjakan. Tugas ini lebih penting daripada kepulanganku. Akan lebih banyak maslahah daripada mudharat nya. Dan aku bangga diberi amanah ini. Meskipun, di balik batu besar ini, aku tak mempu menahan rasa kangen yang meluap-luap pada keluarga, rumah, kawan.. Rasa yang susah payah aku tahan selama 5 bulan. Hanya tangis yang mengungkapkan kekecewaanku. Air mata ini ungkapan dari kekecewaan dan rasa banggaku. Sampai saat ini, aku masih bertahan di sini. Tidak mau menyerah karena tidak bisa menyerah. .

Tidak akan bisa menyerah..

“Didn’t make sense to live for fun. Your brain gets smart but your head gets dumb. So much to do, so much to see. So, what’s wrong with taking the backstreet? You’ll never know if you don’t go. You’ll never shine if you don’t glow..” – All Stars, Smash Mouth

Kakek Penjual Balon Emoticon - Take a Meaning


#Wondrous June

Tue, 11/06/13

Sekitar pukul  08.00 pm, aku dan teman-temanku pulang dari Royal Mall di kawasan Ketintang, Surabaya. Di tengah perjalanan, tepatnya di pertigaan jalan sekitar Royal situ (lupa nama jalannya, hehe) aku bertemu dengan seorang kakek penjual balon emoticon. Beliau nampak ringkih dengan peluh dan guratan-guratan lelah di keningnya, beliau menyungging senyum yang membuat hatiku miris dan entahlah, iba. Beliau mengenakan baju yang tampak lusuh, menyodorkan balon-balon yang ia pegang kepada siapa saja yang lewat. Kulihat dari kejauhan, tak ada yang memperhatikan. Seakan kakek itu tak ada, seperti angin lalu saja. Meskipun begitu, tetap senyum syukur tersungging di bibirnya. Kilau cahaya semangat terpapar jelas dari matanya. Tak kenal lelah. Tak peduli sampai kapan beliau berdiri di sana dengan balon-balonnya, tetap dengan kilau semangat yang sama. Senyum yang sama.

Kupercepat langkahku, sehingga teman di sebelahku mengikutiku dengan langkah lebih cepat. Dia bertanya-tanya, dan hanya kujawab sekenanya saja. Perhatianku terfokus pada kakek. Semakin dekat dan semakin jelas kersik di matanya. Beliau sedikit sangkuk. Keriputnya seperti aliran sungai. Sang kakek tersenyum padaku, aku pun membalas tersenyum. Beliau menyodorkan balon warna kuning itu, “Ya, saya beli 1 ya, Pak..” Masyaallah.. senyumnya semakin merekah.

“Alhamdulillah.. terimakasih mbak..” Hatiku serasa ditusuk. Aku yakin, teman di sebelahku pun merasakan hal yang sama. Tampak peluh keringat di pelipis kakek. Kulitnya hitam, kulit seorang pekerja keras. Beliau seorang pahlawan. Ya. Usahalah yang menentukan layaknya seseorang disebut Pahlawan.

 Aku menelan ludah berkali-kali menahan agar air mataku tidak keluar. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya senyum yang kupaksa agar tidak menangis di depan kakek. Setelah kubayar, aku langsung pergi. Menjauh dari sang kakek, setetes air mata turun. Kemudian di susul tetesan berikutnya dan berikutnya. Ya Allah.. berikan rezeki yang barokah untuk beliau..

Melihat pemandangan seperti tadi, mengingatkan pada kakekku di rumah. Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya itu tadi kakekku. Na’udzubillah ya Allah..

Masa tua harusnya dihabiskan di rumah bersama anak cucu tercinta. Mengapa kakek tadi masih bekerja keras seperti itu? Sampai larut malam? Di mana anak cucunya? Mengapa mereka membiarkan orang tuanya banting tulang sekeras itu? Apa yang mereka lakukan selama ini? Harusnya mereka bisa meringankan beban si kakek setidaknya membalas apa yang telah kakek berikan selama mereka kecil..

Perjuangan kakek tadi secara langsung maupun tidak langsung mampu menyentil satu sisi dalam hatiku. Beliau memberikanku pelajaran tentang “Kerja Keras, Usaha, Ikhlas, Tekad, dan Niat” Begitu besar arti 5 item di atas kalau aku bisa mengelolanya dengan baik. Dari 5 item, seseorang bisa sukses meraih apa yang mereka inginkan. Dan implikasi dari itu semua, pada akhirnya kita mampu membahagiakan orang tua. Merasa bahwa perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia. Kita menghargai setiap titik perjuangan yang mereka berikan untuk kita. Di masa tua, mereka hanya perlu beristirahat. Hanya perlu bermain-main dengan anak cucunya. Tidak ada lagi kerja keras, hanya doa. Itu saja. Giliran kita yang menafkahi mereka. Membalas apa yang telah mereka berikan untuk kita, meskipun itu sangat tidak cukup.

Kata John Quincy Adams, Presiden AS ke-6, “If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and become more,, You’re a Leader.”

Kata Corazon Aquino, “You can never say, *No, I can’t do this!* True, you may not be able to do everything you take on, but you’ll undoubtedly accomplish some of it. That may not sound very heroic. But believe me, from such a humble notion, true heroism is born.”

Kakek adalah seorang pemimpin dan seorang pahlawan, baik untuk keluarganya atau orang di sekitarnya. Beliau mempu memberiku inspirasi untuk berbuat lebih dalam bentuk apapun.

“Biarkan keyakinan kamu 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu, yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja.. Dan hati yang akan bekerja keras dari biasanya.. Serta mulut yang akan selalu berdoa...” – 5 centimeter.

Kata Confucius, “Our greatest glory is not in never falling.. but in rising every time we fall”

Ujian Kenaikan Kelas - Just a Story


#Wondrous June :)

Long time no blog... hehe lagi boke’ buat beli pulsa modem. *curhat nih*

Ah,  senangnya Ujian Kenaikan Kelas telah usai. UKK menuju kelas XII berlangsung mulai tanggal 3 – 8 Juni. Aku merasa lebih antusias (ehm, koreksi : lebih was-was) pada UKK tahun ini. Why? Because, pertama, sebentar lagi akan menjadi siswi SMK tingkat akhir. Kedua, merasa belum siap dengan materi seabrek dengan tingkat kesulitan yang semakin menanjak dan yang paling parah, kurang cocok dengan guru produktif menimbulkan efek malas (tidak tertarik) dengan materi produktif. (oh, payah). Ketiga, UKK menggunakan LCD proyektor dengan alasan sekolah peduli lingkungan (adiwiyata – meminimalisir penggunaan kertas). Bagaimana kalau kau duduk di bangku paling belakang dengan keadaan mata ‘empat’? sangat tidak nyaman.

Antisipasi untuk apapun, aku belajar lebih giat dan lebih niat. Bekerja keras melahap materi-materi tersulit dan ku redam di memoriku. Sistem Kebut Semalam bersama kawan satu ma’had lumayan efektif. Pokoknya, apapun untuk UKK ini, I do it for ya.

Apapun yang sudah direncanakan sematang, semulus apapun, belum tentu dalam pelaksanaannya berjalan lancar seperti yang kita inginkan. Antisipasi, persiapan, skill, and Focus bentuk peminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu pula saat UKK berlangsung. Banyak hal-hal tidak diinginkan terjadi, sampai sempat bikin aku gondok dan bad mood for few times. Aku selalu takut membayangkan bagaiman hasil UKK ini. Aku selalu berdo’a untuk ini. Aku takut mengecewakan orang tuaku. Melihat mereka tersenyum dengan hasil usahaku membuatku sangat cukup dan memotivasiku untuk berbuat lebih.

Dan alhamdulillah, setelah usaha-usaha ini, ridha Allah SWT, ridha guru, do’a orang tua, teman, orang-orang yang kucintai semua, hasilnya alhamdulillah memuaskan...

This World is for those who want to Fight.  ^^9

Man Jadda Wajada . Man Jadda Wajada . Man Jadda Wajada