Senin, 29 April 2013

SAYAP MERPATI

"Semua akan Indah pada Waktunya :) "
Langit mulai menampakkan mega merah, sang surya melambai perlahan memejamkan mata mempersilahkan bulan menggantikan posisinya. Ditemani merpati yang bertengger manis di ranting pohon depanku, seperti biasa aku melalui jendela ruangan kecilku memperhatikan fenomena rutin yang tak pernah membosankan ini.
Kali ini, perhatianku beralih ke merpati di hadapanku. Mengapa ia sendirian? Kemarin sore, ia masih bersama pasangannya di ranting ini. Aku mencoba membuka jendela perlahan, tapi merpati di depanku ini malah kaget dan dengan terpaksa mengepakkan sayapnya meninggalkan tempat favoritnya. Ah, aku menyesal. Aku masih ingin kau temani.
Aku perhatikan bagaimana ia meninggalkanku, aku perhatikan kepakan sayapnya, aku perhatikan kemana dia akan pergi, dan tetap aku perhatikan dia sampai menghilang dari jangkauan mataku. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ingin sepertinya. Memiliki sayap yang setia mengantarkanku terbang kemanapun aku inginkan. Bebas. Dan aku sadar, itulah aku yang dulu, bukan yang sekarang.
Aku yang sekarang, berada di dalam sangkar. Tak mampu terbang sebebas dan seriang kepakan sayapnya. Seperti merpati yang terbang itu, aku dulu juga bebas mengepakkan sayapku kemanapun arah dan tujuanku. Aku bebas menjejakkan cakar kecilku di tempat manapun yang aku mau. Aku bebas membiarkan paruh ini memangsa apapun. Aku bebas terbang bersama siapapun yang aku mau. Aku bebas membiarkan hati ini berkelana ke hati-hati yang paling dalam. Bebas, kemanapun jalan yang belum tentu baik atau beresiko buruk untuk kehidupanku. Yah, itu aku yang dulu. Bukan yang sekarang.
Sekarang, di balik sangkar suci ini, sayap-sayapku tak sebebas dulu. Sayap ini dilatih dan diajar untuk melakukan apapun yang di kehendaki Tuhan, bukan yang aku sendiri kehendaki. Di balik sangkar suci ini pula, sayap putih dan suciku di kuatkan, di jaga. Mencegah hal apapun yang kotor menyentuh helai-helai ini. Mencegah hal apapun yang tidak sesuai mengotori kesucian ini. Membiarkan kaki kecil ini beristirahat di pijakan yang tenang dan tak berkelana. Memakan apapun yang disediakan tanpa mengeluh mengingikan ini atau itu.
Inilah aku yang sekarang, terpaku di balik qanun-qanun dan titah-titah pesantren. Hidup yang sudah mulai tertata dan tidak berfoya-foya. Meninggalkan kehidupan lama, kebiasaan lama, pergaulan lama, dan hanya mengenang meninggalkan teman, sahabat, dan orang-orang tercinta yang telah mewarnai kehidupan lamaku. Menemui kehidupan baru, teman baru, pengalaman baru, dan apapun yang tak pernah ku temui di masa lalu.
Awalnya aku tak mampu menerima perubahan ini. Aku tak mau dikurung di balik sangkar suci ini. Aku tak mau menghadapi kehidupan baru ini. Namun kini, aku mulai terbiasa. Aku mulai mengerti mengapa orang tuaku melakukan ini. Selain karena bakti dan rasa sayang kepada mereka, ini adalah bekal untuk kehidupan ku kelak. Bekal untuk kehidupan yang abadi.
Dalam sebuah dalil dikatakan, bahwa do’a anak shalih/ shalihah merupakan amalan yang tiada putus-putusnya sampai liang lahat bagi orangtuanya.
Di balik sangkar suci nan tinggi ini, aku belajar menjadi aku yang baru. Menjadi anak yang shalihah dan berharap selalu, setiap do’aku untuk orang tuaku, guru, dan orang-orang yang mencintai dan menyayangiku.
Di balik sangkar ini pula, aku di persiapkan untuk menemui hari kemudian dengan pantangan-pantangan yang luar biasa berat. Namun aku yakin, aku mampu, dengan izin Allah SWT melewati setiap pantangan ini.
Di balik perasingan ini, aku belajar dari Rasulullah SAW. Beliau uzlah meninggalkan keluarganya menuju Gua Hira’ menyendiri dan menantikan petunjuk dan wahyu Allah SWT. Begitupun aku, berharap mendapatkan petunjuk dan penerang dari Allah SWT agar selamat sampai akhir hayat.
Tak akan pernah aku sesali hidup di perantauan ini. Tak akan pernah aku iri dengan merpati-merpati yang bebas di luar sana, bergaul dengan siapa saja dan mengepakkan sayap kemanapun mereka ingini. Kuyakini, bahwa sayap ini akan terbang dengan bebas dan di ridhai oleh Allah SWT di  hari yang telah disiapkan.
Berusaha pula aku menggenggam dan tancapkan firman-firman Allah SWT di lisan, pikiran, dan relung hatiku. Ke dua tanganku ini adalah Al-Qur’an. Insyaallah, aku siap di kehidupan yang kekal nanti menghadiahkan mahkota terindah untuk kedua orang tuaku dan mengantarkan mereka dengan kereta kencana menuju jalan surga-Mu Yaa Allah.. Yaa Rabbi.. Tuhan semesta alam. Amiin.. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar