"Semua akan Indah pada Waktunya :) "
Langit mulai menampakkan mega merah, sang surya
melambai perlahan memejamkan mata mempersilahkan bulan menggantikan posisinya.
Ditemani merpati yang bertengger manis di ranting pohon depanku, seperti biasa
aku melalui jendela ruangan kecilku memperhatikan fenomena rutin yang tak
pernah membosankan ini.
Kali ini, perhatianku beralih ke merpati di hadapanku.
Mengapa ia sendirian? Kemarin sore, ia masih bersama pasangannya di ranting
ini. Aku mencoba membuka jendela perlahan, tapi merpati di depanku ini malah kaget
dan dengan terpaksa mengepakkan sayapnya meninggalkan tempat favoritnya. Ah,
aku menyesal. Aku masih ingin kau temani.
Aku perhatikan bagaimana ia meninggalkanku, aku
perhatikan kepakan sayapnya, aku perhatikan kemana dia akan pergi, dan tetap
aku perhatikan dia sampai menghilang dari jangkauan mataku. Entah mengapa,
tiba-tiba aku merasa ingin sepertinya. Memiliki sayap yang setia mengantarkanku
terbang kemanapun aku inginkan. Bebas. Dan aku sadar, itulah aku yang dulu,
bukan yang sekarang.
Aku yang sekarang, berada di dalam sangkar. Tak mampu
terbang sebebas dan seriang kepakan sayapnya. Seperti merpati yang terbang itu,
aku dulu juga bebas mengepakkan sayapku kemanapun arah dan tujuanku. Aku bebas
menjejakkan cakar kecilku di tempat manapun yang aku mau. Aku bebas membiarkan
paruh ini memangsa apapun. Aku bebas terbang bersama siapapun yang aku mau. Aku
bebas membiarkan hati ini berkelana ke hati-hati yang paling dalam. Bebas,
kemanapun jalan yang belum tentu baik atau beresiko buruk untuk kehidupanku.
Yah, itu aku yang dulu. Bukan yang sekarang.
Sekarang, di balik sangkar suci ini, sayap-sayapku tak
sebebas dulu. Sayap ini dilatih dan diajar untuk melakukan apapun yang di
kehendaki Tuhan, bukan yang aku sendiri kehendaki. Di balik sangkar suci ini
pula, sayap putih dan suciku di kuatkan, di jaga. Mencegah hal apapun yang
kotor menyentuh helai-helai ini. Mencegah hal apapun yang tidak sesuai
mengotori kesucian ini. Membiarkan kaki kecil ini beristirahat di pijakan yang
tenang dan tak berkelana. Memakan apapun yang disediakan tanpa mengeluh mengingikan
ini atau itu.
Inilah aku yang sekarang, terpaku di balik qanun-qanun dan titah-titah pesantren.
Hidup yang sudah mulai tertata dan tidak berfoya-foya. Meninggalkan kehidupan
lama, kebiasaan lama, pergaulan lama, dan hanya mengenang meninggalkan teman,
sahabat, dan orang-orang tercinta yang telah mewarnai kehidupan lamaku. Menemui
kehidupan baru, teman baru, pengalaman baru, dan apapun yang tak pernah ku
temui di masa lalu.
Awalnya aku tak mampu menerima perubahan ini. Aku tak
mau dikurung di balik sangkar suci ini. Aku tak mau menghadapi kehidupan baru
ini. Namun kini, aku mulai terbiasa. Aku mulai mengerti mengapa orang tuaku
melakukan ini. Selain karena bakti dan rasa sayang kepada mereka, ini adalah
bekal untuk kehidupan ku kelak. Bekal untuk kehidupan yang abadi.
Dalam sebuah dalil dikatakan, bahwa do’a anak shalih/
shalihah merupakan amalan yang tiada putus-putusnya sampai liang lahat bagi
orangtuanya.
Di balik sangkar suci nan tinggi ini, aku belajar menjadi
aku yang baru. Menjadi anak yang shalihah dan berharap selalu, setiap do’aku
untuk orang tuaku, guru, dan orang-orang yang mencintai dan menyayangiku.
Di balik sangkar ini pula, aku di persiapkan untuk
menemui hari kemudian dengan pantangan-pantangan yang luar biasa berat. Namun
aku yakin, aku mampu, dengan izin Allah SWT melewati setiap pantangan ini.
Di balik perasingan ini, aku belajar dari Rasulullah
SAW. Beliau uzlah meninggalkan keluarganya menuju Gua Hira’ menyendiri dan
menantikan petunjuk dan wahyu Allah SWT. Begitupun aku, berharap mendapatkan
petunjuk dan penerang dari Allah SWT agar selamat sampai akhir hayat.
Tak akan pernah aku sesali hidup di perantauan ini.
Tak akan pernah aku iri dengan merpati-merpati yang bebas di luar sana, bergaul
dengan siapa saja dan mengepakkan sayap kemanapun mereka ingini. Kuyakini,
bahwa sayap ini akan terbang dengan bebas dan di ridhai oleh Allah SWT di hari yang telah disiapkan.
Berusaha pula aku menggenggam dan tancapkan
firman-firman Allah SWT di lisan, pikiran, dan relung hatiku. Ke dua tanganku
ini adalah Al-Qur’an. Insyaallah, aku siap di kehidupan yang kekal nanti
menghadiahkan mahkota terindah untuk kedua orang tuaku dan mengantarkan mereka
dengan kereta kencana menuju jalan surga-Mu Yaa Allah.. Yaa Rabbi.. Tuhan
semesta alam. Amiin..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar